Kamis, 14 Juni 2012
Penguasaan atas Konstantinopel menjadi target utama penguasa Usmani. Setelah berabad-abad sulit ditaklukkan, pada 1452 barulah simbol kekaisaran Bizantium itu berhasil dikuasai umat Islam.

Kegemilangan itu diraih berkat berbagai faktor. Salah satunya, seperti dipaparkan Tamim Ansary pada bukunya Dari Puncak Baghdad, Sejarah Dunia Versi Islam adalah kehadiran beragam perangkat militer luar biasa yang digunakan pasukan Usmani.

Senjata utamanya adalah meriam besar yang disebut Basilika. Panjangnya mencapai 27 kaki dengan lubang lingkaran begitu besar. Meriam itu bahkan bisa menembakkan peluru hingga sejauh satu mil. “Pasukan Usmani adalah pasukan bersenjata terbaik dan berteknologi paling maju pada zamannya,” ungkap Tamim Ansary.

Sejatinya, pasukan ini mewarisi jejak kejayaan kaum Muslim pada bidang rekayasa teknologi, termasuk untuk kepentingan militer. Beberapa abad sebelumnya, aneka perlengkapan tempur terbaik sudah dipakai pasukan Islam.

Alat militer itu menunjang ekspansi umat Muslim sehingga sukses menghadirkan sebuah emporium besar. Kejayaan diraih sepanjang abad pertengahan. Peran militer yang berada di garda terdepan bersama alat tempurnya membawa kemenangan demi kemenangan.

Wilayah kekuasaan kaum Muslim membentang mulai dari jazirah Arab, Afrika Utara, Andalusia, sampai Asia Tengah. Tentara Islam sangat disegani. Tak hanya berkat semangat juang menegakkan syiar, tapi juga perlengkapan militernya tadi.

Peralatan tempur dimaksimalkan untuk menunjang gerak pasukan. Antara lain, mesin penyerbu, senjata, pedang, bubuk mesiu, peluncur roket, dan meriam. Di samping itu, umat Islam telah mampu membuat rancangan benteng pertahanan serta kapal laut yang kokoh.

Inovasi dari tiga unsur, yakni teknik, mekanik, dan kimiawi, menjadi kunci utama. Demikian diungkapkan Ahmad Dallal, Sheila Blair, dan Jonathan Bloom pada buku Sains-Sains Islam. Kemajuan sains dan teknologi di dunia Islam berlanjut pada tumbuhnya industri kemiliteran.

Sebelum muncul meriam seperti pada era Usmani, umat Muslim sudah menguasai teknik pembuatan bubuk mesiu. Ini berasal dari bahan potasium nitrat atau natrun dalam bahasa Arab, yang difilterisasi melalui unsur kimiawi.

Ilmuwan terkemuka al-Bakhtawayh melalui karya berjudul Al-Muqadimmat pada 1029 menguraikan proses tersebut. Ia menyempurnakan teknik yang ditemukan oleh bangsa Cina. Menurutnya, bahan potasium nitrat harus difilterisasi agar menjadi bubuk mesiu yang lebih efektif.

Penjelasan lebih rinci terkait filterisasi bahan pembuat mesiu disampaikan Hasan al-Rahman. Ahli kimia asal Suriah yang hidup di abad ke-13 ini menulis risalah Al-Furusiyya wa al-Manasib al-Harbiyya atau Buku Pedoman Kemiliteran dan Teknologi Tempur. Dia merintis penelitian dalam pengembangan bahan potasium karbonat guna memisahkan kalsium dan magnesium dari potasium nitrat.

Beberapa ilmuwan Muslim terkemuka seperti al-Razi, al-Hamdany, hingga Ibnu Baytar diketahui turut melakukan riset pembuatan serbuk mesiu. Mereka pun mencapai hasil mengagumkan dengan berbagai formula dan resep pembuatannya.

Saintis Barat bernama Bert S Hall memuji temuan tersebut sebagai metode terbaik pada proses kimia pada potasium nitrat. Selain itu, umat Muslim juga berhasil membuat aneka pedang berkualitas tinggi. Pada masa itu, Damaskus adalah sentra kerajinan baja paling terkemuka.

Pedang dari bahan baja banyak diproduksi antara tahun 900 dan 1750. Hasil riset dari Universitas Teknik Dresden membuktikan bahwa pedang buatan pengrajin Muslim abad pertengahan telah mengandung struktur nano yang menjadikannya sangat kuat namun punya daya elastisitas tinggi.

Pedang dihasilkan melalui metode peleburan baja, kemudian dicampurkan dengan bahan karbit yang memunculkan senyawa partikel mikro sebagai penguat lapisan baja. Dengan itu, pengrajin pedang bisa membuat pedang yang lebih tipis namun sangat kuat.

Pedang baja berbentuk melengkung banyak digunakan oleh tentara kavaleri Turki di abad ke-12. Di samping itu, sepanjang abad ke-9, pedang sudah digunakan oleh pasukan Persia yang menjaga perbatasan wilayah Khurasan.


Baju zirah menjadi salah satu inovasi paling penting yang pernah dikenalkan umat Muslim. Dalam bahasa Arab disebut adarqa. Pasukan Muslim di Andalusia mengenakan baju zirah pelindung tubuh terbuat dari bahan kulit dan besi.

Model baju pelindung itu lantas menginspirasi tentara Nasrani sekitar abad ke-14 dan 15. Sarana proteksi juga berupa helm besi yang disebut mighfar, dipergunakan dari abad kedelapan sampai 14.

Para ilmuwan Muslim mencatatkan prestasi melalui penciptaan pakaian antiapi. Sejarah mencatat, pakaian ini pertama kali hadir di medan laga pada 1260. Pada waktu itu, pasukan Mamluk Turki sedang menghadapi pertempuran di Ain Jalut.

Laman wikipedia menyebut, berkat perlengkapan ini pasukan Mamluk bisa menghindari bahaya kobaran api dari serbuk mesiu. Pakaian itu berbahan tunik, katun, serta campuran unsur penguat untuk meredam api. Tak hanya itu, baju ini pun berfungsi melindungi dari terpaan bahan kimia berbahaya.

Pada perkembangan selanjutnya, sejak abad ke-16, jajaran militer Muslim turut pula memakai senjata Abus. Ini adalah cikal bakal meriam modern. Pengguna awal yakni pasukan Usmani. Adanya senjata jenis baru ini memungkinkan mereka membentuk satuan artileri.

Era ini juga ditandai dengan rintisan selongsong peluru roket. Tipu Sultan, penguasa Kekaisaran India Selatan yang berkedudukan di Mysore, mengejutkan pasukan Inggris pada pertempuran Anglo-Mysore dengan peluru yang berdaya ledak tinggi.

Peluru roket kreasi saintis Muslim diakui lebih efektif dan canggih dari yang pernah dimiliki pasukan Inggris. Hal ini terutama berkat penggunakan silinder baja dan propelan yang memberikan daya jangkau lebih jauh hingga mencapai jarak dua mil.

Teknologi roket sebelumnya telah dijelaskan secara lengkap pada buku teknologi militer yang ditulis Hassan al-Rahmah, saintis Muslim abad ke-13. Buku ini menjadi rujukan penting bagi dunia sains dan teknologi militer hingga berabad-abad kemudian.

Penemuan teknik dan mekanik pada bidang militer umat Muslim dapat ditelusuri melalui berbagai karya. Beberapa ilmuwan Muslim menuliskan dengan lengkap proses pembuatan, material yang digunakan, hingga mekanisme kerja alat-alat perang dari abad pertengahan.

Salah satu yang terkenal ditorehkan oleh Najm al-Din Hassan al-Rahman. Saintis asal Suriah yang wafat pada 1295 itu menyajikan sebuah buku berisi sejumlah perlengkapan teknologi militer.

Judulnya Kitab al-Furusiyya wa al-Manasib al-Harbiyya. Buku ini menjadi rujukan sejarah paling penting yang mendokumentasikan teknologi roket awal kreasi ilmuwan Muslim.

Menurut Frank H Winter pada buku The Genesis of the Rocket in China and its Spread to the East and West, kaum Muslim mewarisi senjata roket. Dari naskah-naskah klasik di dunia Islam, para saintis Barat pun mengenal teknologi ini untuk dikembangkan lebih lanjut.

Di samping buku Hassan al-Rahmah, masih ada karya lain yang membahas teknologi roket, yakni risalah milik fisikawan bernama Yusuf ibn Ismail al-Kutub. Pada karya yang selesai disusun pada 1311 itu, ia membeberkan penggunaan serbuk potasium nitrat sebagai campuran bahan bakar roket.

Umat Muslim juga menemukan teknik torpedo. Pada masa modern, torpedo yang diluncurkan dari kapal selam atau kapal permukaan memakai sirip yang menjadi pengarah atau kemudi. Berabad-abad silam, ilmuwan Muslim telah mengungkapkan mekanisme serupa.

Hassan al-Rahmah menyebut torpedo tersebut sebagai telur yang bisa meluncur di air dan meledak. Bentuk torpedo awal itu sekilas mirip cangkang telur. Badan torpedo terbuat dari aluminium, di dalamnya ditaruh serbuk mesiu. Tenaga dorongnya berupa dua roket serta sirip untuk mengarahkan ke sasaran.

Perlengkapan kanon meriam turut menjadi simbol kejayaan teknologi militer umat Muslim. Setidaknya, ada empat manuskrip Arab peninggalan abad ke-14 yang menjelaskan mengenai meriam portabel pertama. Satu tersimpan di St Petersburg, dua di Paris, dan satu terdapat di Istanbul.

Prinsip kerja meriam kuno itu mirip dengan meriam modern. Pada artikelnya di laman muslim heritage, Prof Mohammed Mansour menyebut teknologi meriam dan bahan peledak yang dibawa kaum Muslim ke Andalusia, dan digunakan dalam peperangan melawan pasukan Nasrani, menginsiprasi para ilmuwan Eropa.

“Sejak dikenalkan di Spanyol, teknologi itu lantas berkembang dengan pesat di Prancis, Italia, serta Jerman,” paparnya.

Fauziah Husnaa

Masih perlu banyak belajar. Belajar apa saja. Hampir selesai KKN-PPL dan sedang akan mengajukan judul skripsi. Sangat suka dengan desain dan kartun... Masih aktif sebagai mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta.

0 terbaik

Thanks For Reading and visiting....
Please Leave Your Comment ^____^